0822 314 28 363 sisca.hjs@gmail.com

PT BYD Motor Indonesia memperkenalkan evolusi terbaru Dual Mode (DM) Technology melalui forum Media Tech Auto Talk dalam rangkaian GAIKINDO Indonesia International Auto Show (2026). Dalam sesi edukasi tersebut, menjelaskan tiga platform hybrid yang dikembangkan untuk kebutuhan mobilitas berbeda, mulai dari efisiensi harian, performa tinggi, hingga kemampuan melintasi medan off-road.

Ketiga teknologi tersebut terdiri dari DM-i (Dual Mode Intelligent) yang berfokus pada efisiensi, DM-p (Dual Mode Powerful) untuk performa tinggi, serta DMO (Dual Mode Off-road) yang dirancang menghadapi berbagai kondisi jalan. Seluruhnya dibangun di atas filosofi electric-first, yakni menjadikan motor listrik sebagai sumber penggerak utama dalam sebagian besar kondisi berkendara.

Head of Public and Government Relations PT BYD Motor Indonesia Luther Panjaitan mengatakan perkembangan teknologi hybrid perlu diiringi edukasi agar masyarakat memahami karakter masing-masing platform.

“Kami ingin memperluas pemahaman mengenai filosofi electric-first, cara kerja Dual Mode Technology, serta karakter masing-masing platform, sehingga masyarakat dapat mengenal berbagai pendekatan elektrifikasi dan menentukan solusi mobilitas yang paling sesuai dengan kebutuhan mereka,” ujar Luther Panjaitan.

Filosofi Electric-first Jadi Fondasi Teknologi BYD

BYD menjelaskan teknologi Dual Mode mengintegrasikan motor listrik dan mesin pembakaran melalui sistem manajemen energi yang bekerja otomatis sesuai kebutuhan berkendara. Dalam konsep electric-first, motor listrik menjadi penggerak utama, sedangkan mesin bensin berfungsi menghasilkan energi ke baterai atau memberikan tambahan tenaga saat dibutuhkan.

Karakter tersebut dirangkum dalam konsep GASS (Gesit, Andal, Senyap, dan Super Irit). Teknologi ini telah berkembang dari generasi pertama pada 2008 hingga memasuki DM 5.0 yang membawa peningkatan efisiensi, performa, serta pengelolaan energi.

DM-i Fokus pada Efisiensi, Klaim Konsumsi BBM Capai 65 Km/L

Platform DM-i dikembangkan untuk pengguna yang mengutamakan efisiensi bahan bakar tanpa mengorbankan kenyamanan dan performa.

Teknologi ini menggabungkan mesin hybrid 1.500 cc, Electric Hybrid System (EHS), serta Blade Battery dalam satu sistem. Mesin hybrid tersebut diklaim memiliki efisiensi termal hingga 46,06 persen, sementara sistem EHS mampu memangkas bobot hingga sekitar 30 persen dibanding sistem konvensional.

Berdasarkan simulasi internal BYD, BYD M6 DM yang menggunakan platform DM-i memiliki potensi efisiensi konsumsi bahan bakar hingga 65 kilometer per liter untuk perjalanan sekitar 150 kilometer dengan baterai dan tangki bahan bakar terisi penuh.

DM-p Prioritaskan Performa, DMO Siap Jelajah Off-road

Selain DM-i, BYD juga memperkenalkan DM-p yang dirancang bagi pengguna yang mengutamakan performa.

Platform ini menggunakan konfigurasi All-Wheel Drive (AWD) dengan tambahan motor listrik di roda belakang sehingga menghasilkan akselerasi lebih responsif, traksi lebih baik, dan stabilitas tinggi di berbagai kondisi jalan. Mesin hybrid 1.5 turbo pada DM-p menghasilkan tenaga maksimum 156 PS dan torsi 225 Nm.

Sementara itu, DMO (Dual Mode Off-road) dikembangkan untuk kendaraan berkemampuan jelajah. Teknologi ini menggabungkan motor listrik, mesin hybrid longitudinal 1.5 turbo, struktur Cell-to-Chassis (CTC), serta Hybrid Ladder Frame Body yang meningkatkan kekakuan bodi hingga 38 persen. DMO juga dilengkapi berbagai Terrain Mode, seperti Snow, Sand, Mud, Mountain, Rock, hingga Wading Mode.

Diklaim Pangkas Biaya Operasional hingga 60 Persen

BYD menyebut teknologi DM-i tidak hanya meningkatkan efisiensi energi, tetapi juga mampu menekan biaya kepemilikan kendaraan.

Berdasarkan simulasi internal, platform tersebut berpotensi menghemat biaya operasional hingga sekitar 60 persen dibanding kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE) pada kelas yang sama. Bahkan, hasil pengujian media nasional menunjukkan efisiensi biaya operasional mencapai sekitar 66 persen.

Selain itu, biaya perawatan selama tiga tahun pertama diklaim dapat ditekan hingga sekitar 30 persen berkat interval servis yang lebih panjang dan berkurangnya komponen yang memerlukan perawatan rutin.

Sumber: www.inilah.com